KHABARNEWS – MOROWALI,– Dinas Pendidikan Kabupaten Morowali menggelar kegiatan Montunu Hulu yang diikuti oleh sekitar 2.000 pelajar di Lapangan Sangiang Kinambuka, Kecamatan Bungku Tengah, pada Senin (16/3/2026). Kegiatan ini merupakan agenda tahunan untuk melestarikan tradisi budaya Bungku sekaligus menyambut malam Lailatul Qadar di penghujung bulan suci Ramadan.
Kepala Dinas Pendidikan Morowali, Arifin Lakane, menjelaskan bahwa Montunu Hulu adalah warisan budaya yang sarat makna spiritual. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta dan memiliki terhadap kearifan lokal, khususnya di kalangan generasi muda.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, kegiatan Montunu Hulu merupakan upaya pengembangan dan pelestarian tradisi dan budaya Bungku untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap kearifan lokal masyarakat, khususnya generasi muda,” ujar Arifin di sela-sela acara.
Makna Spiritual dan Filosofi Obor
Arifin Lakane menerangkan, secara etimologi, Montunu berarti membakar dan Hulu berarti obor. Dengan demikian, Montunu Hulu dapat diartikan sebagai tradisi membakar obor. Namun, lebih dari sekadar aktivitas fisik, tradisi ini memiliki akar sejarah yang dalam bagi masyarakat Bungku.

“Dalam sejarah kerajaan Bungku, obor memiliki makna sebagai penerang kegelapan pada malam-malam Ramadan. Tradisi menyalakan obor dilakukan agar suasana malam menjelang Idulfitri menjadi terang benderang,” jelasnya.
Tradisi ini juga menjadi simbol penyambutan datangnya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan yang diyakini hadir pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Antusiasme Ribuan Pelajar
Pada pelaksanaan tahun ini, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Ribuan siswa-siswi dari berbagai sekolah di Kecamatan Bungku Tengah berpartisipasi dengan membawa obor menyala, berjalan mengelilingi area lapangan dalam sebuah pawai budaya. Pemandangan obor yang menerangi malam menciptakan suasana khidmat yang memadukan nilai religiusitas dengan kearifan budaya lokal.
Kegiatan Montunu Hulu diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi media edukasi bagi generasi penerus untuk terus menjaga dan mewarisi tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.










