Kronologi Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS Andrie Yunus: Diduga Diintai Sebelum Kejadian

banner 468x60

KHABARNEWS – Jakarta, 16 Maret 2026 – Tindak kekerasan kembali menimpa aktivis hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Wakil Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh dua orang tak dikenal. Peristiwa tragis ini terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, dan diduga kuat merupakan bagian dari aksi teror sistematis.

Insiden tersebut terjadi pada Kamis, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.37 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum peristiwa penyiraman, korban diduga telah mengalami penguntitan oleh pihak tidak dikenal selama beberapa hari sebelumnya.

Kronologi Kejadian di Salemba

Peristiwa berlangsung di Jalan Salemba 1-Talang, Jakarta Pusat. Saat itu, Andrie Yunus baru saja menyelesaikan agenda rekaman podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Rekaman kamera pemantau (CCTV) yang beredar menunjukkan momen ketika korban tengah mengendarai sepeda motor sendirian. Tiba-tiba, dua orang pelaku yang menggunakan satu sepeda motor melaju dari arah berlawanan. Tanpa banyak bicara, salah satu pelaku langsung menyiramkan cairan yang diduga kuat air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuhnya.

Andrie Yunus sempat berteriak kesakitan dan terjatuh dari kendaraannya sebelum akhirnya dilarikan oleh warga dan rekannya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Hingga saat ini, tidak ada barang berharga milik korban yang dilaporkan hilang, memperkuat dugaan bahwa motif di balik aksi ini bukanlah perampokan biasa, melainkan tindakan intimidasi dan teror.

Reaksi Publik: Ini Bukan Kejahatan Biasa

Aksi pengecut ini memicu kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat sipil, khususnya kalangan buruh dan pegiat HAM. Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM) menilai peristiwa ini sebagai bentuk teror terhadap aktivis pembela HAM yang merupakan ancaman serius terhadap kebebasan sipil dan ruang demokrasi di Indonesia.

Dalam pernyataan resminya, FSPIM mendesak aparat penegak hukum untuk bergerak cepat.

“Negara harus betul-betul menyikapi kejadian ini. Kepada Aparat Penegak Hukum (APH), kami minta agar segera mengatasi tindakan kekerasan ini dan menangkap pelaku yang melakukan kekerasan penyiraman air keras,” tegas perwakilan FSPIM.

Senada dengan hal tersebut, Tesar Anggrian Bonjol, selaku Juru Kampanye FSPIM-KPBI, menyoroti dampak luas dari peristiwa ini. Menurutnya, serangan terhadap aktivis seperti Andrie Yunus menjadi preseden buruk bagi kelompok masyarakat lain yang kerap bersuara kritis.

“Kejadian yang menimpa aktivis KontraS ini menjadi ancaman juga bagi buruh. Ini peringatan keras bagi kita semua ketika melakukan kritik terhadap kebijakan yang merugikan pekerja,” ujar Tesar.

Ia menambahkan, “Kami menegaskan bahwa serangan kepada aktivis KontraS, Andrie Yunus, tidak bisa dipandang sebagai tindakan kriminal biasa. Ini adalah ancaman besar sebagai upaya pembungkaman terhadap perjuangan rakyat.”

Investigasi dan Harapan Publik

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait identitas pelaku dan motif di balik penyiraman air keras ini. Publik, khususnya komunitas HAM, berharap kasus ini dapat segera terungkap.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan rentannya para pejuang HAM di Indonesia. Selain fokus pada pemulihan kondisi Andrie Yunus, publik kini menanti aksi nyata dari aparat untuk mengungkap dalang di balik aksi teror ini dan memastikan ruang demokrasi tetap terjaga dari aksi kekerasan.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *