KhabarNews.Id _ LUWU, 25 Januari 2026 – Aksi unjuk rasa menuntut pemekaran wilayah Luwu Raya sejak Minggu (25/1/2026) pagi, berdampak luas dengan memblokade poros utama Jalan Trans Sulawesi. Aksi ini dilaporkan melumpuhkan total arus lalu lintas di titik protes.
Dampak kritis langsung dirasakan pada sektor distribusi bahan bakar minyak (BBM). Puluhan mobil tangki pengangkut BBM terpaksa berhenti dan tidak dapat menembus wilayah tujuan, yakni Kabupaten Luwu Timur dan Luwu Utara. Akibatnya, pasokan BBM ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kedua wilayah tersebut terhambat dan mengalami gangguan signifikan.
Gangguan distribusi ini terjadi di tengah kondisi pasar BBM yang sudah tidak stabil. Berdasarkan pantauan di sejumlah lokasi, harga BBM eceran (non-subsidi) dilaporkan sudah mulai merangkak naik, dengan kisaran kenaikan mencapai Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per liter dari harga sebelumnya.
“Kami tidak bisa lewat. Truk tangki kami mengantre panjang. Jika aksi ini berlarut, kekosongan stok di SPBU bisa meluas,” ujar salah seorang sopir tangki yang enggan disebutkan namanya.
Pemblokade oleh massa yang terdiri dari elemen masyarakat dan kelompok pemekaran ini membuat kendaraan dari berbagai jenis terjebak dalam antrean panjang di kedua arah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai upaya penyelesaian atau penanganan arus lalu lintas.
Dikhawatirkan, jika jalanan tidak segera dibuka, krisis pasokan BBM akan semakin parah dan berpotensi memicu kelangkaan serta melonjaknya harga lebih tinggi, tidak hanya untuk BBM tetapi juga barang kebutuhan pokok lainnya yang distribusinya terganggu.
Para pengendara yang akan melintasi wilayah Luwu disarankan untuk mencari informasi terkini dan mempertimbangkan rute alternatif guna menghindari kemacetan yang telah membentang sepanjang kilometer.










