KHABARNEWS – Morowali, – Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa Kecamatan Bahodopi (FK-PPMKB) mendesak PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengevaluasi program Beasiswa IMIP Bersinergi. Mereka menilai pelaksanaan CSR di bidang pendidikan ini masih memiliki sejumlah kelemahan, terutama menyangkut keadilan dan transparansi.
Meskipun mengapresiasi keberlanjutan program beasiswa tersebut, FK-PPMKB menyoroti adanya perbedaan nominal bantuan antara penerima angkatan tiga dan empat. Ketua FK-PPMKB, Rafky, mempertanyakan mengapa mahasiswa Bahodopi yang merupakan masyarakat lingkar tambang justru menerima bantuan lebih rendah dibandingkan program beasiswa lain di bawah naungan PT IMIP. Menurutnya, masyarakat lokal seharusnya menjadi prioritas utama dalam kebijakan pendidikan perusahaan .
“Publik perlu mengetahui bahwa beasiswa ini bukan lahir karena kemurahan hati perusahaan, tetapi merupakan hasil perjuangan panjang mahasiswa dan masyarakat Bahodopi dalam mengawal pemenuhan hak masyarakat di wilayah lingkar tambang,” tegas Rafky .
Perubahan Syarat dan Kurang Transparan
FK-PPMKB juga menyoroti ketidakkonsistenan dalam mekanisme seleksi. Hampir setiap angkatan menghadapi perubahan persyaratan administrasi, menunjukkan belum adanya standar yang jelas dan berkelanjutan . Mereka juga mempertanyakan klaim bahwa seleksi dilakukan kolaboratif bersama paguyuban mahasiswa. Berdasarkan pengalaman, peran paguyuban hanya sebatas mengumpulkan berkas administrasi, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen CSR .
Dorong Perluasan Jenjang Pendidikan
Sekretaris Umum FK-PPMKB, Sinta, mendorong PT IMIP untuk tidak membatasi program CSR pendidikan hanya pada jenjang Sarjana (S1). Menurutnya, sudah saatnya perusahaan membuka skema beasiswa untuk Diploma III (D3), Diploma IV (D4), Magister (S2), dan Doktor (S3). Bahodopi membutuhkan beragam profesi seperti guru, tenaga kesehatan, peneliti, dan insinyur sebagai bagian dari pembangunan daerah .
“Kami tidak pernah membatasi pembahasan hanya pada beasiswa S1. Sejak lama kami mengusulkan agar PT IMIP mulai memikirkan skema beasiswa untuk S2, pendidikan profesi, hingga bantuan penyelesaian studi,” jelas Sinta .
CSR Bukan Sekadar Angka
FK-PPMKB menegaskan bahwa keberhasilan CSR tidak diukur dari besaran anggaran atau banyaknya penerima, tetapi dari seberapa adil manfaatnya dirasakan masyarakat, transparansi tata kelola, dan konsistensi perusahaan dalam merealisasikan komitmen. CSR pendidikan harus menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat lokal, bukan sekadar narasi keberhasilan perusahaan.










