KHABARNEWS – Morowali – Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM) sukses menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) perdana mereka di Balai Desa Kolono, Kecamatan Bungku Timur, Morowali, pada 13–14 April 2026. Agenda ini menjadi tonggak sejarah penting bagi federasi yang belum genap setahun berdiri sejak dideklarasikan pada Juli 2025 lalu.
Rakernas ini menjadi wadah krusial untuk merumuskan arah gerak organisasi di tengah dinamika industri pertambangan dan manufaktur yang semakin kompleks. Dengan dihadiri ratusan anggota, forum ini membahas sejumlah agenda strategis mulai dari evaluasi perjalanan organisasi sejak embrio di tahun 2018 hingga proyeksi peta jalan politik ke depan.
Pembagian Komisi dan Dinamika Debat
Hari pertama Rakernas diisi dengan pembukaan, pemaparan situasi organisasi 2018–2026, serta analisis mendalam mengenai situasi pertambangan di Indonesia. Puncaknya, peserta dibagi ke dalam tiga komisi untuk merumuskan rekomendasi program kerja, yaitu:
- Komisi Organisasi: Fokus pada perluasan sayap FSPIM ke daerah-daerah baru, khususnya wilayah lingkar tambang terdekat.
- Komisi Politik: Membahas sikap organisasi terhadap kebijakan efisiensi perusahaan yang berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK).
- Komisi Ideologi: Memperkuat perspektif dan gagasan dasar perjuangan buruh.
Suasana forum dilaporkan berlangsung hangat dan penuh perdebatan konstruktif. Isu-isu krusial seperti penanganan debu di kawasan industri serta perlawanan terhadap politik efisiensi manajemen yang memicu gelombang PHK di PT. MIM, RJS, GNI, dan end contract di PT. MTI menjadi sorotan tajam para peserta.
Menariknya, ketika diskusi mulai merembet ke ranah elektoral dan sikap menghadapi Pemilu, forum secara mufakat memutuskan untuk menunda pembahasan tersebut. Peserta menilai wacana keterlibatan dalam politik praktis masih terlalu dini mengingat belum adanya kendaraan politik yang secara serius berpihak pada kelas pekerja. Fokus utama saat ini adalah konsolidasi internal dan perluasan basis anggota di daerah.
Sistematisasi Kerja dan Persiapan May Day
Ketua Umum FSPIM, Komang Jordi Segara, menegaskan bahwa Rakernas kali ini bertujuan untuk menyamakan perspektif agar gerak organisasi lebih terukur dan tidak tumpang tindih.
“Rakernas FSPIM-KPBI pertama ini dijadikan sebagai ajang untuk konsolidasi gagasan dan menghimpun kekuatan buruh agar lebih terukur dan tersistematis. Kami juga menguraikan tugas pokok dan fungsi dari tingkat DPP hingga PUK agar pelaksanaan program tidak saling bertentangan,” ujar Komang Jordi.
Di sela-sela pembahasan program, forum juga mulai menyusun strategi respons untuk menyambut peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 mendatang. Hal ini sejalan dengan geliat gerakan buruh nasional yang mulai memanaskan mesin politiknya menjelang 1 Mei .
Apresiasi untuk Panitia yang “Membumi”
Ketua Panitia, Ade Novit, menyampaikan apresiasinya atas kerja keras seluruh tim yang terlibat. Ia menyebut sinergi panitia, mulai dari divisi perlengkapan, dokumentasi, Barisan Pelopor (Bapor), hingga tim konsumsi, menjadi kunci suksesnya acara.
“Rakernas kali ini terasa sangat membumi berkat kerja sama yang solid. Tanpa dukungan logistik yang prima, forum tidak akan bisa berjalan selogis ini,” kelakar Ade Novit. Ia menambahkan, hasil Rakernas ini diharapkan mampu memantapkan langkah FSPIM menuju organisasi yang lebih kuat dan bermartabat demi peningkatan kesejahteraan buruh secara berkelanjutan.










